Selasa, 08 Juni 2010

tugas riset akutansi

ANALISIS PENGARUH INTENSITAS MORAL TERHADAP INTENSI KEPERILAKUAN: PERANAN MASALAH ETIKA PERSEPSIAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN ETIS YANG TERKAIT DENGAN SISTEM INFORMASI

CalendarJune 9, 2010 | Posted by joernal

Etika Sistem Informasi Komputerisasian
Etika diartikan sebagai filsafat moral yang berkaitan dengan studi tentang tindakan-tindakan baik ataupun buruk manusia di dalam mencapai kebahagiaannya. Apa yang dibicarakan di dalam etika adalah tindakan manusia, yaitu tentang kualitas baik (yang seyogyanya dilakukan) atau buruk (yang seyogyanya dihindari) atau nilai-nilai tindakan manusia untuk mencapai kebahagiaan serta tentang kearifannya dalam bertindak (Bourke, 1966 dalam Pramumijoyo dan Warmada, 2004).
Minggu, 18 Maret 2007 pukul 12:13 WIB, dalam detikInet diberitakan bahwa pembobolan situs kembali terjadi. Kali ini yang menjadi korban adalah situs resmi kepresidenan yang beralamat di www.presidensby.info. Halaman depan situs SBY tersebut diubah isinya dengan sebuah surat tuntutan yang oleh pelakunya dinamai Tuntutan Rakyat versi 2 (Tritura v.2). Meski situs www.presidensby.info dibobol, namun situs resmi kepresidenan yang beralamat www.presidenri.go.id tetap berpenampilan normal. Padahal baik www.presidensby.info dan www.presidenri.go.id, memiliki konten yang sama persis.
Contoh tersebut adalah salah satu contoh terjadinya berbagai kasus penyalahgunaan di dunia cyber seperti juga contoh lainnya yaitu kasus situs BCA yang di-duplikat dengan nama yang mirip beberapa waktu lalu. Ini menunjukkan bahwa teknologi informasi membutuhkan pemahaman mengenai etika dalam penggunaannya agar tidak terjadi kejahatan-kejahatan yang membawa kerugian.
Beberapa pihak yang peduli terhadap etika sistem informasi khususnya terkait dengan penggunaan teknologi informasi telah membuat berbagai pedoman mengenai etika penggunaan komputer, Salah satunya yaitu pedoman yang dibuat oleh Indoglobal-supp@indoglobal.com mengenai pedoman bagi pemakai dan nekinet yang diberi judul Sepuluh Perintah untuk Etika Komputer, yang isinya adalah:
• Jangan menggunakan untuk membahayakan orang lain.
• Jangan mencampuri pekerjaan komputer orang lain.
• Jangan mengintip file orang lain.
• Jangan menggunakan komputer untuk mencuri.
• Jangan menggunakan komputer untuk bersaksi dusta.
• Jangan menggunakan atau menyalin perangkat lunak yang belum kamu bayar.
• Jangan menggunakan sumber daya komputer orang lain tanpa otorisasi.
• Jangan mengambil hasil intelektual orang lain untuk diri kamu sendiri.
• Pikirkanlah mengenai akibat sosial dari program yang kamu tulis.

• Gunakanlah komputer dengan cara yang menunjukkan tenggang rasa dan rasa penghargaan.
Seiring dengan era globalisasi saat ini, berbagai dunia usaha saat ini sangat bergantung pada Teknologi Informasi (TI). Seperti yang diungkapkan oleh Isnaeni Achdiat dalam detikInet (2007), menurutnya tidak dapat dipungkiri bahwa, saat ini, tingkat ketergantungan dunia usaha dan sektor usaha lainnya, termasuk badan-badan pemerintahan terhadap TI semakin lama semakin tinggi. Pemanfaatan TI di satu sisi dapat meningkatkan keunggulan kompetitif suatu organisasi, akan tetapi di sisi lain juga memungkinkan timbulnya risiko-risiko yang sebelumnya tidak pernah ada.
Dalam profesi akuntansi, dunia auditing juga menyesuaikan dengan kebutuhan Teknologi Informasi (TI) di mana konsep paperless telah menggantikan konsep yang lama sehingga perlu dikaukan audit terhadap TI. Menurut Ron Weber, dalam salah satu bukunya: Information System Controls and Audit (Prentice-Hall, 2000), ada beberapa alasan penting mengapa audit TI perlu dilakukan, antara lain: Kerugian akibat kehilangan data; Kesalahan dalam pengambilan keputusan; Risiko kebocoran data; Penyalahgunaan Komputer; Kerugian akibat kesalahan proses perhitungan; Tingginya nilai investasi perangkat keras dan perangkat lunak komputer.
Teori Intensitas Moral Jones
Jones (1991) mengajukan sebuah konstruk yang terkait dengan isu-isu moral yang dikenal dengan Intensitas Moral. Intensitas Moral adalah sebuah konstruk yang mencakup karakteristik-karakteristik yang merupakan perluasan dari isu-isu yang terkait dengan imperatif moral dalam sebuah situasi. Intensitas Moral bersifat multidimensi, dan komponen-komponen bagiannya merupakan karakteristik dari isu-isu moral. Komponen-komponen dari karakteristik-karakteristik tersebut yaitu: (1) besaran konsekuensi (the magnitude of consequences), didefinisikan sebagai jumlah kerugian (atau manfaat) yang dihasilkan oleh pengorbanan (atau kebermanfaatan) dari sebuah tindakan moral; (2) konsensus sosial (social consensus) didefinisikan sebagai tingkat kesepakatan sosial bahwa sebuah tindakan dianggap jahat atau baik; (3) probabilitas efek (probability of effect) merupakan sebuah fungsi bersama dari kemungkinan bahwa tindakan tertentu akan secara aktual mengambil tempat dan tindakan tersebut akan secara aktual menyebabkan kerugian (manfaat) yang terprediksi; (4) kesegeraan temporal (temporal immediacy) adalah jarak atau waktu antara pada saat terjadi dan awal mula konsekuensi dari sebuah tindakan moral tertentu (waktu yang makin pendek menunjukkan kesiapan yang lebih besar); (5) kedekatan (proximity) adalah perasaan kedekatan (sosial, budaya, psikologi, atau fisik) yang dimiliki oleh pembawa moral (moral agent) untuk si pelaku dari kejahatan (kemanfaatan) dari suatu tindakan tertentu; (6) konsentrasi efek (concentration of effect) adalah sebuah fungsi infers dari jumlah orang yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh sebuah tindakan yang dilakukan.
Intensitas Moral tidak memasukkan karakter dari pembuat keputusan, misalnya seperti perkembangan moral (Trevino, 1986); atau pengetahuan maupun nilai (Ferrel & Gresham, 1985), juga tidak mempertimbangkan faktor-faktor organisasi, seperti budaya organisasi (Trevino, 1986) maupun kebijakan perusahaan (Ferrel & Gresham, 1985). Intensitas Moral fokus pada isu moral, bukan pada pembawa moral (moral agent) maupun konteks organisasi.
Masalah Etika Persepsian
Norma-norma individu dilekatkan dalam konsep-konsep pribadi individu yang didasarkan pada kepercayaan dan sistem nilai yang dianut. Pemahaman norma-norma sosial membutuhkan penyesuaian nilai-nilai yang secara intrinsik menuntun perilaku dan menentukan jika perilaku pengaruhan diterima atau ditolak (Malhotra & Galleta, 2005). Masalah Etika Persepsian adalah suatu pandangan bagaimana seorang individu memandang dan menilai suatu situasi apakah termasuk ke dalam masalah etis atau tidak (Goles et al., 2006).
Intensi Keperilakuan
Intensi Keperilakuan didefinisikan sebagai suatu keinginan individu untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku (yaitu keinginan untuk berperilaku etis atau tidak etis) (Ajzen 1991; Ajzen dan Fishbein 1980; Ajzen dan Madden 1986; Bommer at al. 1987; Eining dan Christensen 1991; Ferrel dan Gresham 1985). Sedangkan menurut Fishbein and Ajzen (1975) dalam Davis et al. (1989), Intensi Keperilakuan didefinisikan sebagai sebuah ukuran dari kekuatan sebuah keinginan untuk melakukan suatu perilaku yang spesifik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar